Sabtu, 30 Oktober 2010

Iran Isi Bahan Bakar Inti Tenaga Nuklir


Iran Isi Bahan Bakar Inti Tenaga Nuklir

Ekonomi - / Selasa, 26 Oktober 2010 12:47 WIB
Metrotvnews.com, Teheran: Iran mengisi bahan bakar ke dalam inti pembangkit tenaga atom pertamanya dan perayaan akan dilaksanakan untuk menandai salah satu langkah penting pada rencana nuklir negara Islam itu.

"Bahan bakar pembangkit tenaga Bushehr akan diisikan ke intinya," ujar Ketua Parlemen Keamanan Nasional dan Dewan Kebijakan Luar Negeri, Alaeddin Boroujerdi, yang dikutip oleh Kantor Berita IRNA, pada Senin (25/10).

Iran mulai mengisi bahan bakar pembangkit pada Agustus dan para pejabat mengatakan reaktor tersebut akan mulai menghasilkan tenaga listrik pada awal 2011, mundur beberapa bulan akibat penyebaran virus komputer sedunia yang diperkirakan Iran sebagai sasaran utamanya.

Pemerintah Iran mengatakan pembangkit tersebut akan menghasilkan listrik sebesar 1.000 megawatt, sekitar 2,5% kebutuhan tenaga listrik Iran.

bahan bakar

injeksi bahan bakar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Injeksi bahan bakar adalah sebuah teknologi digunakan dalam mesin pembakaran dalam untuk mencampur bahan bakar dengan udara sebelum dibakar.
Penggunaan injeksi bahan bakar akan meningkatkan tenaga mesin bila dibandingkan dengan penggunaan karburator[rujukan?] . Dan injeksi bahan bakar juga dapat mengontrol pencampuran bahan bakar dan udara yang lebih tepat, baik dalam proporsi dan keseragaman.
Injeksi bahan bakar dapat berupa mekanikal, elektronik atau campuran dari keduanya. Sistem awal berupa mekanikal namun sekitar 1980 mulai banyak menggunakan sistem elektronik.
Sistem elektronik modern menggunakan banyak sensor untuk memonitor kondisi mesin, dan sebuah unit kontrol elektronik (electronic control unit, ECU) untuk menghitung jumlah bahan bakar yang diperlukan. Oleh karena itu injeksi bahan bakar dapat meningkatkan efisiensi bahan bakar dan mengurangi polusi, dan juga memberikan tenaga keluaran yang lebih.

penganti bahan bakar

Pengganti BBM: Tanaman Jarak dan Kotoran Sapi


Wakil Gubernur Jambi, Antony Zeidra Abidin, mengajak para walikota dan bupati untuk mengembangkan tanaman jarak di daerahnya, sebagai bahan baku pengganti bahan bakar minyak (BBM) masa depan. ** Tingginya harga BBM saat ini sangat dirasakan warga, terutama bagi masyarakat menengah kebawah, seperti nelayan, pedagang kecil, dan industri rumah tangga, kata Antony Zeidra Abidin di Jambi, Selasa (7/2).
Topografis dan iklim di Provinsi Jambi berpotensi dan cocok bagi pengembangan tanaman jarak, sehingga bila dikembangkan secara optimal diyakini akan mampu mengurangi beban warga dalam menjalankan usahanya. Instansi terkait seperti dinas perkebunan dan pertanian diperintahkan lebih aktif dan intensif memotivasi petani untuk mengusahakan tanaman tersebut.
Pengolahan tanaman jarak menjadi bahan penggati BBM, instansi terkait memprogramkan studi banding dengan mengirim tenaga penyuluh untuk mengadopsi teknologi ke daerah yang sudah berhasil memanfaatkan tanaman tersebut. Ia menyebutkan, untuk membantu meringankan masyarakat dan industri di daerah yang sangat terbebani karena tingginya harga BBM, segala cara dilakukan seperti mencari berbagai bahan pengganti minyak yang lebih murah.
Kotoran Sapi Bermanfaat Ganda Wakil Gubernur Jambi juga menyebutkan, banyak cara yang bisa dilakukan warga untuk mengganti BBM selain tanaman jarak yang berpotensi dijadikan bahan bakar minyak adalah kotoran sapi. Kotoran sapi dapat dimanfaatkan sebagai pengganti BBM karena dapat menghasilkan gas yang dapat digunakan sebagai energi penggerak mesin. Juga sisa pengolahan kotoran tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. ”Provinsi Jambi yang juga banyak terdapat sentra ternak sapi dan kerbau itu, juga potensi penghasil pengganti BBM yang selama ini terbuang percuma,” kata Antony Zeidra Abidin.

pembakaran bahan bakar

Pembakaran
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Perubahan tertunda ditampilkan di halaman iniBelum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari

Pembakaran adalah suatu runutan reaksi kimia antara suatu bahan bakar dan suatu oksidan, disertai dengan produksi panas yang kadang disertai cahaya dalam bentuk pendar atau api.

Dalam suatu reaksi pembakaran lengkap, suatu senyawa bereaksi dengan zat pengoksidasi, dan produknya adalah senyawa dari tiap elemen dalam bahan bakar dengan zat pengoksidasi. Contoh:

CH_4 + 2O_2 \rightarrow \; CO_2 + 2H_2O + \textrm{panas}
CH_2S + 6F_2 \rightarrow \; CF_4 + 2HF + SF_6 + \textrm{panas}

Contoh yang lebih sederhana dapat diamati pada pembakaran hidrogen dan oksigen, yang merupakan reaksi umum yang digunakan dalam mesin roket, yang hanya menghasilkan uap air.

2H_2 + O_2 \rightarrow \; 2H_2O + \textrm{panas}

Pada mayoritas penggunaan pembakaran sehari-hari, oksidan oksigen (O2) diperoleh dari udara ambien dan gas resultan (gas cerobong, flue gas) dari pembakaran akan mengandung nitrogen:

CH_4 + 2O_2 + 7.52N_2 \rightarrow \; CO_2 + 2H_2O + 7.52 N_2 + \textrm{panas}

Seperti dapat dilihat, jika udara adalah sumber oksigen, nitrogen meliputi bagian yang sangat besar dari gas cerobong yang dihasilkan.

Dalam kenyataannya, proses pembakaran tidak pernah sempurna. Dalam gas cerobong dari pembakaran karbon (seperti dalam pembakaran batubara) atau senyawa karbon (seperti dalam pembakaran hidrokarbon, kayu, dll) akan ditemukan baik karbon yang tak terbakar maupun senyawa karbon (CO dan lainnya). Jika udara digunakan sebagai oksidan, beberapa nitrogen akan teroksidasi menjadi berbagai jenis nitrogen oksida (NOx) yang kebanyakan berbahaya

Minggu, 24 Oktober 2010

jenis bahan bakar

Jenis Bahan Bakar
Bahan bakar berasal dari berbagai macam komponen vegetasi baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Berbagai komponen tersebut akan menentukan kelompok bahan bakar, yang terbagi atas rumput, semak belukar, pohon-pohon atau tegakan, dan sisa-sisa yang tertinggal di hutan bekas tebangan, atau sisa limbah eksploitasi yang tertinggal di hutan bekas tebangan, atau sisa-sisa limbah kayu dari hasil land clearing dalam rangka penyiapan lahan.
Menurut sagala (1994) membedakan jenis bahan bakar lebih terperinci lagi yaitu:
1. Serasah lantai hutan
Serasah lantai hutan dapat berupa daun-daun pohon yang berjatuhan baik yang baru jatuh ataupun yang sudah mongering. Keberadaan daun-daun yang mongering tersebut dapat mempercepat penjalaran api. Contoh serasah yang cepat dalam penjalaran api dan yang mudah terbakar adalah serasah pinus Pinus merkusii.
2. Serasah tebangan
Serasah tebangan ini dapat berupa pohon yang telah di tebang, dapat pula berupa ranting-ranting pohon yang jatuh dan patah, serasah tebangan dapat melakukan penjalaran api yang cepat bila serasah tebangan kering dan dapat pula mejalar lambat bila serasah tebangannya basah dan lembab.
3. Tumbuhan bawah (epatorium, alang-alang dan resam)
Contoh dari tumbuhan bawah ini adalah alang-alang dan resam.Tumbuhan bawah merupakan media yang paling cepat dalam perambatan dan penjalaran terutama lagi jika alang-alang tadi kering
4. Kanopi
Kanopi yang rapat apalagi ditambah dengan kanopi yang lebat dapat mempercepat penjalaran api sehingga bisa membuat kebakaran meluas dengan cepat.
5. Tumbuhan bawah bertaut dengan kanopi
Tumbuhan bawah yang bertaut dengan kanopi disini contohnya pohon yang mempunyai simbiosis dengan pohon yang ditautnya, apabila tumbuhan yang bertaut banyak maka proses penjalaran api nya akan sangat cepat pula membakar hutan
6. Rumputan
Rumputan yang kering dapat mempercepat laju penjalaran api, rumputan merupakan bahan bakar yang mempunyai kerapatan yang rendah karena pada umumnya rumputan longgar dan tidak rapat, oleh karena itu rumputan merupakan bahan bakar yang baik dalam proses penjalaran api
7. Semak
Semak belukar merupakan bahan bakar yang cepat dalam proses kebakaran hutan, sama seperti rumputan yang juga cepat dalam proses pembakaran hutan.
8. Alang-alang
Sama halnya juga dengan rumputan dan semak alang-alang juga termasuk salah satu bahan bakar yang paling cepat dalam penjalaran api, dibandingkan dengan bahan bakar lainnya seperti pohon, kanopi dan lainnya.
9. Gelagah
10. Gambut
10. Batang melapuk tergeletak dan
Bahan bakar jenis ini merupakan bahan bakar yang tergantung kepada kering atau lembabnya batang tadi, apabila batang yang melapuk tadi kering maka merupakan bahan bakar yang dapat mempercepat laju penjalaran api, sebaliknya apabila batang yang melapuk tadi lembab maka proses penjalaran api juga akan lambat.
12. Batang melapuk berdiri
Jenis bahan bakar bias digunakan untuk memprediksi intensitas kebakaran yang akan terjadi. Tumbuh-tumbuhan berdaun jarum lebih mudah terjadi kebakaran besar dibandingkan dengan daun lebar yang relativ lebih sulit terbakar

sifat bahan bakar

Sifat dan Penyebaran Bahan Bakar
Menurut sifat dan penyebarannya bahan bakar dapat dibedakan menjadi beberapa golongan sebagai berikut:
• Bahan Bakar Ringan
Bahan bakar ringan adalah bahan bakar yang mudah terbakar seperti rumput, daun atau serasah dan tanaman muda. Bahan bakar ringan biasanya akan mudah terbakar dan akan cepat padam.
• Bahan Bakar Berat
Bahan bakar berat adalah bahan bakar yang terdiri dari batang kayu yang rebah, tunggul, sisa-sisa tanaman yang akan sulit terbakar dan akan sulit dipadamkan bila telah terbakar.

• Bahan Bakar Merata
Mencakup bahan bakar yang terdistribusikan secara kontinyu pada suatu areal. Termasuk dalam katagori ini, adalah daerah-daerah yang memiliki suatu jaringan bahan bakar dan saling berhubungan satu sama lain sehingga terbuka jalan bagi penyeberangan api.
• Bahan Bakar Tidak Merata
Meliputi semua bahan bakar yang terdistribusikan secara tidak merata pada suatu areal. Hambatan atau rintangan tertentu yang ada, misalnya berupa gunung batu, Kolam atau danau, jalan, sungai atau tanaman yang sulit terbakar.
• Bahan Bakar Yang Sangat Rapat
Meliputi tanaman pada areal dimana tanaman yang ada penyebaranya sangat rapat serhingga dimungkinkan
api dapat merambat ketas melalui dahan dan ranting yang saling berhubungan.

bahan bakar

Hubungan Bahan Bakar dan Penjalaran Api
Penjalaran api kebakaran hutan dan lahan dipengaruhi oleh kondisi bahan bakarnya. Kondisi bahan bakar bagaimana yang mempengaruhi kecepatan menjalarnya api yaitu kelembaban, ukuran dan kesinambungan bahan bakar. Beberapa factor tersebut diuraikan sebagai berikut :
a. Kelembaban bahan bakar
kemudahan bahan bakar untuk menyala tergantung pada kelembabannya. Semakin tinggi kelembaban berarti semakin kandungan air dalam bahan bakar, sehingga akan menyulitkan api untuk menyala dan menjalar. Demikian pula sebaliknya, apabila bahan bakar hanya sedikit mengandung kelembaban, maka ini akan mempermudah dan mempercepat api untuk menjalar. Bahan bakar yang kering akan mempermudah dan mempercepat api untuk menjalar. Bahan bakar yang memiliki kelembaban tinggi umumnya berasal dari pohon-pohon yang masih hidup, sedangkan bahan bakar yang memiliki kelembaban rendah berasal dari tumbuh-tumbuhan yang sudah mati, bisa berupa pohon mati, sisa-sisa pembalakan seperti tonggak, serpihan potongan ranting, dan sebagainya (Purbowaseso, 2004).
b. Ukuran bahan bakar
Kecepatan menjalarnya apai juga ditentukan oleh ukuran bahan bakarnya. Bahan bakar yang ringan akan lebih cepat menjalarnya dibandingkan dengan yang berat. Contoh bahan bakar ringan seperti daun-daunan, rerumputan, semak-semak ringan, sedangkan contoh bahan bakar berat, seperti tonggak bekas penebangan batang-batang pohon yang tertinggal dihutan, serta cabang-cabang pohon. Bahan bakar yang besar akan lebih lambat menjalarnya
Bahan bakar yang berkesinambungan akan mempermudah api untuk menjalar. Hal ini disebabkan pemindahan panas dari bahan bakar satu kebahan bakar didekatnya akan berjalan dengan baik (Purbowaseso, 2004)
Kebakaran hutan seringkali terjadi, data menunjukkan bahwa luas kebakaran hutan di Indonesia 5 tahun terakhir terluas pada tahun 1998 sebesar 515.026 ha, sedangkan pada tahun 2002 sebesar 35.496 ha (Dephut, 2003). Karakteristik tanah terbakar di Sumatera ditinjau dari warna tanah masih dapat bertahan 12 minggu setelah hutan terbakar, nilai value dan chroma menurun dan hue menjadi lebih kuning. Kebakaran menyebabkan perubahan warna agregat luar memiliki hue dan chroma lebih rendah dan hue menjadi lebih merah dibandingkan warna dalam agregat   
Terkumpulnya bahan bakar di hutan dari satu lokasi kelokasi lain sangat bervariasi dan sangat tergantung dari struktur jenis dan komposisi bahan bakar yang ada. Disamping itu juga sangat dipengaruhi oleh sifat vegetasi yang bersangkutan, misalnya: sifat menggugurkan daun, mengadakan pemangkasan sendiri secara alami (pruning), besarnya tajuk, serta faktor lainn Jenis vegetasi yang memilik sifat menggugurkan daun dan cepat mengalami pruning akan memberikan akulmulasi bahan bakar dilantai hutan dalam ya seperti aktivitas mikroorganisme tanah serta frekuaensi terjadinya kebakaran jumlah besar dibandingkan jenis yang tidak menggugurkan daun atau lambat mengadakan pruning. Demikian pula dengan pohon yang memiliki tajuk yang besar juga akan memberikan akulmulasi bahan bakar yang banyak bila dibandingkan dengan pohon yang memiliki tajuk yang kecil didalam hutan